"Ma, ada sodara jauh kita ato anak temen mama yang namanya Linda ga?" tanyaku saat lagi makan malam bersama mama.
"Hmm.. Sepertinya tidak ada, bert. Kenapa kamu tanya begitu?"
Aku memandang wajah mama dengan ragu-ragu. Terlihat sekali kalo aku baru sadar wajah mama uda mulai menua. Matanya sudah kelihatan sayu, pun garis-garis halus sudah berdiam diri di dahinya. Pengorbanan yang besar dari seorang mama yang membesarkan anaknya sendirian setelah ditinggal papa.
"Yakin ma, ga ada?"
"Iya yakin. Kenapa sih, bert?"
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan ke mama kejadian tadi pagi.
"Gitu ma kejadiannya"
"Terus kok kamu bisa tau nama dia Linda?"
"Nah itu juga yg ditanyain cewe itu ke aku."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku ya jawab aja tadi liat di name tag nya gt"
"Iya, mungkin memang kamu tadi ada liat name tagnya sekilas"
"Ga ada, ma. Swear deh... Apa aku punya indera keenam buat baca pikiran orang kali ya?"
"Ah... kamu ini ada ada aja, bert. Kamu uda kebanyakan nonton film. Terus kamu ada kenalan ama dia?"
"Kaga. Cuman bantu pungut dan kasi buku dia yang terjatuh"
"Yah, payah kamu, bert.
Ya uda, ayo diselesaikan makanannya, habis itu bantu mama beresin dapur."
"Iya, ma" jawabku dengan lesu.
Malamnya pikiranku masi menerawang ke kejadian tadi pagi. Wajah Linda pun terbayang di benakku. Sejujurnya aku baru kali ini merasa penasaran ama sesuatu ato seseorang. Aku bertekad besok harus bisa ketemu lagi ama dia walau hrs ampe obrak abrik kampus.
Aku pun tersenyum-senyum sendiri memikirkan hal itu.
-----
Keesokan harinya, Aku kecewa sekali karena tidak berhasil ketemu cewe idamanku itu.
Urung niatku buat obrak abrik kampus. Aku pun berjalan lesu ke tempat parkiran.
"Ayo Pak, kita jalan" sambil mutar radio yang lagi siarin berita.
Aku menghela nafas panjang dan di saat itu juga aku seperti lupa menghirup nafas lagi karena aku melihat sosok yang kutunggu2. Dia lagi ada di halte bus dekat parkiran.
"Pinggir dulu Pak"
Aku pun beranikan diri buat dekatin dia.
"Halo, Linda. Masi ingat aku ga?"
"Oh kamu yang kemarin terjatuh itu ya. Gimana? Masi terasa sakit?"
"Uda ga, hehe. kamu mau pulang? Mau ku antarin ga?"
"Oh ga usah. Aku naik bus aja."
"Kenapa? Takut aku culik ya? Ga perlu takut deh, aku ini cowo super baik kok" Dalam hati terasa kaget juga kok bisa aku segombal itu.
"Haha. Bukan takut, tapi ga mau repotin cowo yang super baik" balasnya sambil menatapku dalam.
Aku keluarin dompetku.
"Gini aja. Nih KTP ku, kamu pegang dan tahan dulu sampai nanti di depan rumah kamu baru deh balikin."
"Terus buat apa aku pegang?"
"Ya sebagai jaminan gitu. Kalo nanti aku ngapa2in kan situ bisa bawa ke kantor polisi"
"Kalo KTP nya palsu?" tanyanya sambil mendelik ke KTP ku.
"Ga mungkin. Coba deh liatin foto ku yang imut itu. Apa ada tampang penipu? Tidak kan? Ayolah aku antar kamu pulang, lagian kita ga berduaan kok, ada Pak Kumar, supirku. Tuh orangnya" kataku sambil melambai2 ke arah Pak Kumar.
Dia terdiam sejenak sepertinya lagi menimbang-nimbang.
"Errr.. baiklah... Aku ga merepotin kan ya?"
"Tentu saja tidak. Ayo ke tempat parkiran situ"
-----
"Pak, ke daerah utara ya." perintahku ke Pak Kumar setelah masuk ke mobil.
"Lho? kamu kok tahu rumahku di daerah situ?" tanya Linda dengan muka heran dan penasaran. Ekspresi muka yang sama dengan kemarin. Dalam hati aku senang sekali melihat dia begitu penasaran.
"Kalo aku bilang aku itu peramal, kamu percaya tidak?"
"Tidak"
"Mau aku buktikan?"
"Bole"
"Oke, ntar nih habis dari perempatan depan, ga lama kamu akan lihat kerumunan orang karena ada billboard yang jatuh"
"Wah, benarkah?" Ekspresi heran itu lagi.
Tiba-tiba Pak Kumar nyeletuk.
"Haha... Non, jangan percaya omongan Den. Billboard yang jatuh itu beritanya ada di radio kok. Tadi barusan kita dengar sebelum ketemu Non"
"Yahhhh Pak, jangan merusak kesenangan orang donk." gerutuku.
"Haha... ketahuan deh bohongnya." terdengar tawa Linda yang begitu lepas.
"Ngomong-ngomong, kita belum resmi kenalan ya" kataku sambil ulurin tangan buat salam.
"Uda tahu kok. Namamu Albert Pratama kan?"
"Hah? Kok lu bisa tahu?"
"Haha. Emangnya kamu aja yang bisa ngeramal, aku juga bisa"
"Serius?"
"Kaga deh. Nih KTP lu kan masi di tanganku. Gimana sih? Jelas2 tertulis disini namanya Albert Pratama"
"Oiya hehe" Aku pun pasang cengir kuda.
"Ga pa pa deh. Ayo kenalan secara resmi"
Aku julurkan tanganku ke dia.
"Albert Pratama"
Dia pun membalas uluran tanganku.
"Linda Wijaya"
Di saat tanganku menyentuh tangannya, aku langsung tersentak seperti tersengat listrik. Kepalaku terasa berat sekali, pandangan ku mengabur dan apa yang kulihat selanjutnya membuatku shock...